Pemprov Jatim Perluas OPOP, Perkuat Kemandirian Ekonomi Pesantren
SURABAYA — Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperluas program One Pesantren One Product (OPOP) sebagai langkah strategis dalam mendorong kemandirian ekonomi pesantren. Komitmen tersebut ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Pengembangan OPOP Jawa Timur Tahun 2026 yang digelar pada 21–22 April 2026 di Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama.
Kegiatan ini diikuti oleh 200 perwakilan pesantren dari berbagai daerah, terdiri dari 100 peserta yang hadir secara luring dan 100 peserta lainnya mengikuti secara daring. Para peserta menampilkan beragam produk unggulan pesantren yang sebagian besar masih dalam tahap pengembangan, baik dari sisi kualitas, kemasan, maupun legalitas usaha. Forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha pesantren agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Program OPOP sepanjang tahun 2026 terus digencarkan sebagai upaya memperluas pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren. Tidak hanya menyasar kelembagaan, program ini juga melibatkan alumni serta masyarakat sekitar, sehingga terbentuk ekosistem ekonomi yang inklusif, mandiri, dan berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, pesantren diharapkan mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berakar pada nilai kemandirian dan pemberdayaan umat.
Asisten Administrasi Umum (Asisten III) Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Jazuli, menegaskan bahwa OPOP menjadi instrumen penting dalam membekali santri dengan keterampilan kewirausahaan. “Program ini menjadi bekal bagi santri agar memiliki kemampuan berwirausaha sejak di pesantren, sehingga ketika kembali ke masyarakat sudah siap secara ekonomi,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kesiapan ekonomi bagi santri pascalulus. Menurutnya, kemandirian ekonomi merupakan bagian penting dalam membentuk kualitas hidup santri di masa depan. “Kita harus sehat jasmaninya, rohaninya, dan juga ekonominya. Melalui OPOP, harapannya santri bisa benar-benar mandiri,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur, Endy Alim Abdi Nusa, menyampaikan bahwa OPOP tidak hanya berfokus pada penguatan kelembagaan pesantren, tetapi juga pada pemberdayaan santri sebagai pelaku usaha. “Kita menghadirkan santri-santri berprestasi yang tidak hanya belajar agama, tetapi juga memiliki kemampuan membangun usaha,” katanya.
Menurutnya, semakin banyak santri yang mulai terjun ke dunia usaha dan berkontribusi terhadap perekonomian pesantren. Melalui program OPOP, berbagai kendala seperti perizinan usaha, PIRT, sertifikasi halal, hingga penguatan branding produk juga mendapatkan pendampingan intensif. Hal ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam mempercepat pertumbuhan usaha berbasis pesantren.
Sekretaris Jenderal OPOP, Mohammad Ghofirin, mengungkapkan bahwa hingga tahun 2025 program ini telah memberdayakan 1.410 pesantren di Jawa Timur. Pada tahun 2026, ditargetkan tambahan 200 pesantren mampu mencapai kemandirian ekonomi melalui pembinaan terpadu. “Seluruh aspek akan dibina secara paripurna, mulai dari kelembagaan, sumber daya manusia, produk, pemasaran hingga pembiayaan,” jelasnya.
Di tengah penguatan program tersebut, Pondok Pesantren PPAI Annahdliyah turut ambil bagian sebagai bagian dari ekosistem OPOP Jawa Timur. Pesantren ini mengembangkan produk unggulan berupa Sabun Jagat, yaitu sabun kesehatan yang diproduksi oleh para santri sebagai wujud nyata pembelajaran kewirausahaan di lingkungan pesantren.
Pengembangan Sabun Jagat tidak hanya menjadi media praktik bisnis bagi santri, tetapi juga merupakan langkah konkret dalam membangun kemandirian ekonomi pesantren. Dengan mengusung konsep produk kesehatan yang aman dan bernilai manfaat bagi masyarakat, produk ini diharapkan mampu bersaing di pasar sekaligus memberikan kontribusi ekonomi bagi pesantren.
Keterlibatan Pondok Pesantren PPAI Annahdliyah dalam program OPOP menunjukkan bahwa pesantren kini tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi umat. Melalui inovasi produk dan penguatan kapasitas santri, pesantren semakin menegaskan perannya dalam mencetak generasi yang religius, mandiri, dan berdaya saing.
Dengan perluasan program OPOP yang terus berlanjut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur optimistis pesantren akan semakin berkembang menjadi pilar ekonomi baru yang tidak hanya kuat secara nilai, tetapi juga tangguh dalam menghadapi dinamika pasar modern.