72 Mahasiswa Resmi Diwisuda, Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama Malang Teguhkan Kiprah Global dan Karakter Aswaja
Batu – Sebanyak 72 mahasiswa resmi diwisuda dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama Malang (STAINU Malang), Sabtu (14/2/2026), yang digelar di Hotel Zam Zam. Prosesi yang berlangsung khidmat ini menjadi momentum penting peneguhan komitmen kampus dalam mencetak kader intelektual Nahdlatul Ulama yang berdaya saing global dan berakar kuat pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Acara tersebut dihadiri jajaran ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama, di antaranya Ketua MUI Kabupaten Malang KH Fadhol Hija, Ketua Idaroh Syu’biyah Kabupaten Malang KH Solihin Rozin, perwakilan PCNU Kabupaten Malang KH Ibnu Mu’ti, unsur MWCNU wilayah Malang Barat, serta pimpinan lembaga pendidikan dan mitra strategis kampus.
Komitmen Pengembangan dan Kerja Sama Internasional
Ketua STAINU Malang, Pujiono, S.Pd.I., M.Pd., dalam pidatonya menyampaikan rasa terima kasih kepada para wali wisudawan atas kepercayaan yang diberikan kepada STAINU Malang sebagai tempat menempuh pendidikan.
Ia menegaskan bahwa meski saat ini STAINU Malang masih memiliki dua program studi, yakni S-1 Manajemen Pendidikan Islam dan S-1 Ekonomi Syariah, pengembangan institusi terus dilakukan secara progresif.
“Dalam beberapa waktu terakhir, kami tidak hanya menjalin kerja sama di tingkat regional dan nasional, tetapi juga internasional,” ujarnya.
Salah satu capaian strategis adalah kerja sama dengan KBRI Malaysia untuk program praktik mengajar mahasiswa di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Empat mahasiswa STAINU Malang diberangkatkan ke Malaysia pada 1–28 Februari 2026 untuk menjalani praktik mengajar. Seluruh pembiayaan ditanggung negara melalui skema KIP Kuliah.
Menurut Pujiono, langkah tersebut merupakan bagian dari ikhtiar memperluas kiprah STAINU Malang di tingkat global sekaligus meningkatkan kualitas lulusan.
Meneruskan Amanat Pendiri
Dalam sambutannya, Pujiono juga mengingatkan kembali amanat pendiri STAINU Malang, almarhum KH Muhammad Mansur, agar kampus ini menjadi wadah kemaslahatan warga Nahdlatul Ulama.
Ia menegaskan bahwa STAINU Malang adalah milik bersama warga NU, khususnya masyarakat Malang Raya dan Malang Barat. Sejak berdirinya, lembaga yang berada di lingkungan Pondok Pesantren PPAI Annahdliyah tersebut kerap menjadi pusat kegiatan keumatan dan sosial kemasyarakatan.
“Kami berharap keberkahan nama Nahdlatul Ulama dan PPAI Annahdliyah menjadi keberkahan bagi mahasiswa, orang tua, dan seluruh masyarakat,” tuturnya.
Lulusan Berprestasi dan Berjiwa Wirausaha
Dari 72 wisudawan, sebagian telah aktif mengajar di berbagai lembaga pendidikan. Tak sedikit pula yang mulai merintis usaha di bidang ekonomi syariah.
Salah satu contoh adalah Muhammad Arwani, mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah yang sukses mengembangkan usaha mie pangsit melalui UD Utuh Mandiri Food hingga menjadi pemasok Mie Gacoan wilayah Pasuruan dan Probolinggo. Bahkan, usahanya kini berkembang hingga Nusa Tenggara Barat.
Capaian tersebut, menurut Pujiono, membuktikan bahwa lulusan STAINU Malang tidak hanya diarahkan menjadi tenaga pendidik formal, tetapi juga didorong mengembangkan potensi kewirausahaan sesuai minat dan peluang yang ada.
Penguatan Sanad Keilmuan dan Beasiswa Kader NU
Dalam kesempatan itu, Ketua STAINU juga menekankan pentingnya kesinambungan sanad keilmuan antara mahasiswa, dosen, hingga para muassis Nahdlatul Ulama. Ia menyebut keterhubungan ilmu tersebut sebagai bagian dari keberkahan tradisi pesantren dan NU.
Pada tahun 2025, STAINU Malang memberikan beasiswa kepada sekitar 76 kader dari Ansor, Fatayat, Muslimat, IPNU, dan IPPNU melalui berbagai skema, mulai dari keringanan biaya, beasiswa penuh, KIP Kuliah, BAZNAS, hingga LPPD Jawa Timur.
Selain itu, pada 2024 kampus menerima 20 mahasiswa hafidz Al-Qur’an melalui seleksi hafalan Al-Qur’an dan kitab. Pada momentum wisuda ini pula, STAINU Malang meresmikan Unit Kegiatan Mahasiswa Fuqoha (Forum Quro wal Huffadz) sebagai wadah pengembangan tilawah, tahfidz, dan kajian Al-Qur’an, termasuk pembelajaran qira’ah asyrah.
Empat Pilar Karakter Aswaja
Sementara itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren PPAI Annahdliyah, Gus Nahdzil Khoir, dalam sambutannya menegaskan bahwa wisuda bukan sekadar seremoni akademik, melainkan pengukuhan amanah sosial.
Ia menitipkan empat pilar karakter Aswaja An-Nahdliyah kepada para lulusan:
- Tawasut (Moderat) – menjadi penengah di tengah ekstremisme.
- Tawazun (Seimbang) – menyeimbangkan orientasi dunia dan akhirat.
- Tasamuh (Toleran) – menghargai perbedaan dalam keberagaman.
- I’tidal (Tegak Lurus) – menjunjung keadilan dan integritas.
“Dunia tidak akan terus bertanya berapa IPK kalian, tetapi apa kontribusi kalian untuk masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada para orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada STAINU Malang. Menurutnya, gelar sarjana yang diraih bukan hanya milik mahasiswa, tetapi juga buah dari doa dan pengorbanan orang tua.
Menjaga Nama Baik Almamater
Prosesi wisuda yang berlangsung di Hotel Zam Zam Kota Batu tersebut ditutup dengan pesan agar para alumni senantiasa menjaga nama baik almamater dan terus mengabdi kepada umat, Jam’iyah Nahdlatul Ulama, serta Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Wisuda STAINU Malang 2026 tidak hanya menjadi penanda kelulusan akademik, tetapi juga simbol kesinambungan perjuangan intelektual pesantren dalam menjawab tantangan zaman—dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah.
Teruslah berjaya demi mengangkat Marwah dan martabat Nahdhotul Ulama’. Jaya terus STAINU Malang ku
Teruslah berjaya demi mengangkat Marwah dan martabat Nahdhotul Ulama’. Jaya terus maju terus STAINU Malang ku
Teruslah berjaya demi mengangkat Marwah dan martabat Nahdhotul Ulama’. Jaya terus maju terus STAINU Malang teruslah bersaing di kancah internasional