Sinergi Alumni dan Santri: Mengubah Sampah Menjadi Berkah melalui Budidaya Maggot di TPS GPA Raya
MALANG – Tumpukan sampah sering kali dipandang sebagai beban lingkungan, namun di tangan para penggerak yang tepat, ia bertransformasi menjadi sumber daya bernilai ekonomi. Hal inilah yang dipelajari secara mendalam oleh dua santri delegasi kewirausahaan Pondok Pesantren PPAI An-Nahdliyah, Mirza Kholila dan Zuhriyah, saat menyambangi Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Griya Permata Alam (GPA) Raya, Malang.
Kunjungan lapangan ini bukan sekadar observasi rutin, melainkan sebuah misi “jemput bola” ilmu dari praktisi yang juga merupakan senior mereka. Adalah Bapak Faisol, Kepala Pengelola TPS GPA Raya sekaligus alumni PPAI An-Nahdliyah, yang menjadi mentor utama dalam membedah potensi besar di balik budidaya maggot.
Transformasi Sampah Menjadi Solusi Sirkular
Di lokasi, kedua santri menyaksikan langsung bagaimana teknologi biologis bekerja. Menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF), limbah organik yang semula berbau disulap menjadi pakan ternak berprotein tinggi dan pupuk kompos berkualitas.
“Kami melihat ekosistem yang tertata. Di sini, disiplin pesantren diwujudkan dalam ketelatenan memantau suhu, kelembaban, dan kebersihan media tumbuh maggot,” ujar Mirza.
Bapak Faisol menjelaskan bahwa kunci keberhasilan pengelolaan limbah ini terletak pada konsistensi—sebuah nilai yang ia serap selama bertahun-tahun mengenyam pendidikan di pesantren. Maggot yang dihasilkan kini menjadi komoditas primadona bagi peternak lokal, menciptakan kemandirian ekonomi sekaligus menekan beban pembuangan sampah ke pusat.
Apresiasi dan Ucapan Terima Kasih
Di penghujung kunjungan, suasana hangat menyelimuti pertemuan lintas generasi ini. Mirza dan Zuhriyah menyampaikan rasa syukur dan penghormatan yang mendalam kepada Bapak Faisol atas bimbingan dan keterbukaan informasi yang diberikan.
“Kami mewakili keluarga besar Santri Wirausaha PPAI An-Nahdliyah mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Faisol. Beliau bukan hanya memberikan wawasan teknis yang luar biasa, tetapi juga menjadi teladan nyata bagaimana seorang alumni pesantren mampu menjadi solusi bagi permasalahan masyarakat luas. Ilmu yang Bapak bagikan sangat berharga bagi langkah kewirausahaan kami ke depan,” ungkap Zuhriyah dengan penuh takzim.
Bapak Faisol pun merespons dengan penuh harapan agar para santri tidak berhenti pada tahap belajar, tetapi segera memulai langkah nyata. Ia menegaskan bahwa pintu TPS GPA Raya akan selalu terbuka bagi para santri yang ingin belajar lebih jauh demi kemaslahatan umat.
Ilmu yang Menghidupi
Kunjungan ini diakhiri dengan sebuah refleksi penting: ilmu akan menjadi “mahal” ketika ia diamalkan dengan kesabaran dan keikhlasan. Pulang dari TPS GPA Raya, kedua santri tidak hanya membawa bekal teori budidaya, tetapi juga semangat baru untuk mengintegrasikan nilai spiritual pesantren ke dalam kemandirian ekonomi hijau.
Di tengah geliat sampah yang kini menjadi berkah, terjalin silaturahmi yang kokoh antara santri dan alumni, membuktikan bahwa dedikasi terhadap lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari pengabdian seorang santri.
Pak Kaji Faishol