MALANG โ Pondok Pesantren PPAI Annahdliyah, Kepuharjo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan pada Minggu, 11 Oktober 2026. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Ahmad Basarah, S.H., M.H., anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, sebagai narasumber, serta dihadiri Saifudin Zuhri, S.H.I., anggota DPRD Provinsi Jawa Timur periode 2024โ2029, dan Fathur Rohman, S.Pd.I., anggota DPRD Kabupaten Malang dari Fraksi PDI Perjuangan.
Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi keluarga besar PPAI Annahdliyah untuk memperkuat wawasan kebangsaan sekaligus menumbuhkan motivasi para santri melalui kisah perjalanan hidup alumni yang kini mengemban amanah sebagai wakil rakyat.
Tidak hanya menjadi forum penyampaian materi kebangsaan, kegiatan ini juga menghadirkan pesan mendalam tentang peran pendidikan pesantren dalam membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan siap memberikan kontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Gus Nahdzil Khoir: Santri Tidak Perlu Berkecil Hati Menatap Masa Depan
Dalam sambutannya, Pengasuh Pondok Pesantren PPAI Annahdliyah, Gus Nahdzil Khoir, memperkenalkan pesantren beserta peran pendidikan yang selama ini dijalankan dalam mendidik para santri. Beliau juga memperkenalkan Saifudin Zuhri, S.H.I., dan Fathur Rohman, S.Pd.I., sebagai alumni PPAI Annahdliyah yang kini berkiprah di lembaga legislatif.
Kehadiran kedua alumni tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar pesantren. Perjalanan mereka menunjukkan bahwa santri memiliki kesempatan yang luas untuk berkembang dan mengambil peran penting dalam kehidupan masyarakat.
Gus Nahdzil Khoir memberikan motivasi kepada para santri dan tamu undangan agar tidak merasa rendah diri karena latar belakang keluarga maupun keadaan ekonomi. Menurut beliau, para santri tidak perlu terlalu khawatir mengenai masa depan dan akan menjadi apa setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak semata-mata ditentukan oleh keadaan seseorang saat ini, melainkan juga oleh kesungguhan dalam belajar, ketekunan dalam berusaha, doa, serta kemauan untuk terus memperbaiki diri.
Pendidikan pesantren bukan hanya membekali santri dengan ilmu agama, tetapi juga menanamkan kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan akhlak yang menjadi bekal penting dalam menghadapi kehidupan.
Melalui kisah para alumni, Gus Nahdzil Khoir berharap para santri semakin percaya diri dalam merancang masa depan. Santri hendaknya tetap tekun menuntut ilmu, menghormati guru, menjaga akhlak, serta berani memiliki cita-cita besar tanpa melupakan nilai-nilai yang telah ditanamkan selama mondok.
Saifudin Zuhri Berbagi Kisah Perjuangan: Berangkat dari Keluarga Petani hingga Menjadi Wakil Rakyat
Suasana kegiatan semakin inspiratif ketika Saifudin Zuhri, S.H.I., anggota DPRD Provinsi Jawa Timur periode 2024โ2029, menyampaikan pengalaman hidupnya, termasuk perjalanan selama menimba ilmu di Pondok Pesantren PPAI Annahdliyah.
Dalam kesempatan tersebut, ia menceritakan latar belakang keluarganya yang sederhana. Orang tuanya bekerja sebagai petani jeruk di wilayah Giripurno, Kota Batu. Perjalanan hidupnya dimulai dari kondisi yang bersahaja, sebelum akhirnya memperoleh amanah untuk mengabdi kepada masyarakat melalui lembaga legislatif.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi para santri bahwa keterbatasan ekonomi keluarga tidak seharusnya menjadi penghalang untuk meraih cita-cita. Setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang melalui pendidikan, kerja keras, dan kesungguhan dalam menjalani proses kehidupan.
Pengalaman menjadi santri di PPAI Annahdliyah merupakan bagian penting dari perjalanan hidupnya. Di lingkungan pesantren, santri tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga menjalani proses pembentukan karakter yang mengajarkan kedisiplinan, kesabaran, kesederhanaan, dan tanggung jawab.
Kisah Saifudin Zuhri memberikan gambaran nyata kepada para santri bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu dimulai dari keadaan yang serba berkecukupan. Justru, dengan tekad yang kuat dan kemauan untuk terus belajar, seseorang dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Kisah tersebut sekaligus memperkuat pesan pengasuh pesantren bahwa para santri tidak perlu berkecil hati. Apa yang mereka jalani hari ini merupakan bagian dari proses panjang untuk membangun masa depan.
Fathur Rohman, Alumni Pesantren dari Keluarga Petani yang Kini Mengabdi kepada Masyarakat
Inspirasi serupa juga hadir melalui sosok Fathur Rohman, S.Pd.I., anggota DPRD Kabupaten Malang dari Fraksi PDI Perjuangan. Ia juga berasal dari keluarga petani, sebuah latar belakang yang menggambarkan kehidupan sederhana dan dekat dengan perjuangan masyarakat.
Kehadiran Fathur Rohman bersama Saifudin Zuhri di lingkungan pesantren yang pernah menjadi tempat menimba ilmu memberikan makna tersendiri bagi para santri PPAI Annahdliyah.
Keduanya menjadi contoh bahwa alumni pesantren dapat menempuh berbagai jalan pengabdian, termasuk melalui dunia politik dan lembaga perwakilan rakyat. Pengabdian tersebut menuntut tanggung jawab, integritas, serta kesediaan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Bagi para santri, kisah kedua alumni ini menjadi pengingat bahwa asal-usul keluarga bukanlah batas bagi seseorang untuk bermimpi. Yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan kesempatan belajar, membangun karakter, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri agar kelak mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Kebanggaan pesantren terhadap alumninya bukan semata-mata karena jabatan yang diraih, melainkan juga karena adanya kesempatan untuk melihat ilmu dan nilai-nilai pendidikan yang pernah ditanamkan berkembang menjadi pengabdian nyata di tengah masyarakat.
Ahmad Basarah Sampaikan Pentingnya Memahami 4 Pilar Kebangsaan
Sebagai bagian utama kegiatan, Dr. Ahmad Basarah, S.H., M.H., anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, menyampaikan materi Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan kepada para santri dan tamu undangan.
Sosialisasi ini menjadi sarana edukasi untuk memperkuat pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Materi 4 Pilar Kebangsaan mencakup Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika.
Pancasila menjadi dasar dan ideologi negara yang memuat nilai-nilai luhur kehidupan berbangsa. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjadi konstitusi yang mendasari penyelenggaraan negara. NKRI merupakan bentuk negara yang harus dijaga keutuhan dan persatuannya, sedangkan Bhinneka Tunggal Ika menegaskan pentingnya persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Bagi kalangan pesantren, pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan memiliki arti penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan keagamaan, tetapi juga memahami tanggung jawab sebagai warga negara.
Santri diharapkan mampu mengamalkan nilai persatuan, menghormati perbedaan, menjaga kerukunan, serta berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, pendidikan pesantren dapat berjalan seiring dengan upaya memperkuat persatuan dan membangun kehidupan bangsa yang damai.
Melalui kegiatan tersebut, wawasan kebangsaan diharapkan semakin tumbuh dalam diri para santri, sehingga mereka mampu menjadi generasi yang berpegang teguh pada nilai agama sekaligus memiliki kepedulian terhadap masa depan Indonesia.
PPAI Annahdliyah, Tempat Menumbuhkan Ilmu, Akhlak, dan Semangat Pengabdian
Kegiatan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di PPAI Annahdliyah menjadi momentum yang mempertemukan edukasi kebangsaan dengan inspirasi nyata dari perjalanan para alumni.
Pesan yang disampaikan Gus Nahdzil Khoir, pengalaman hidup Saifudin Zuhri, serta kehadiran Fathur Rohman memberikan dorongan moral bagi para santri untuk lebih percaya diri dalam menatap masa depan. Sementara itu, materi yang disampaikan Ahmad Basarah memperkuat pentingnya pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan sebagai bagian dari pembentukan generasi muda.
Pondok pesantren memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan pemahaman agama, tetapi juga memiliki karakter kuat, akhlak mulia, serta kesiapan untuk berkontribusi bagi masyarakat.
Bagi PPAI Annahdliyah, perjalanan para alumni menjadi pengingat bahwa pendidikan yang dijalani para santri hari ini merupakan investasi penting bagi masa depan mereka. Setiap proses belajar, setiap nasihat guru, dan setiap pengalaman selama mondok merupakan bagian dari pembentukan pribadi yang akan mereka bawa ketika terjun ke tengah masyarakat.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para santri semakin bersemangat menuntut ilmu, berani bercita-cita, serta mampu memadukan nilai-nilai keislaman dengan semangat kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pesantren, santri belajar untuk menjadi pribadi yang berilmu dan berakhlak. Dari pesantren pula, tumbuh generasi yang siap mengabdi kepada masyarakat dan berkontribusi bagi bangsa.
Kisah para alumni PPAI Annahdliyah menjadi pesan nyata bahwa masa depan tidak semestinya dibatasi oleh kesederhanaan latar belakang. Dengan ilmu, akhlak, kerja keras, doa, dan semangat pengabdian, setiap santri memiliki kesempatan untuk menorehkan perjalanan hidup yang bermakna